Intergritas Seorang Pengacara

0
709

Bojonegoro sigap88news -Peran seorang pengacara sangat penting dalam proses penyelesaian masalah, baik di dalam maupun luar pengadilan.

Karenanya mereka dituntut untuk bersikap jujur, obyektif dan memiliki integritas terhadap supremasi hukum.

”Seorang pengacara tidak boleh membuat tafsir hukum yang bersifat sangat subyektif, hingga berakibat pada manipulasi kebenaran atau mengingkari fakta hukum dengan berbagai modusnya,” ungkap Anjas S, SH, seorang pengacara di Bojonegoro.

Menurutnya, pengacara mesti berdiri dan bersikap netral dalam membantu meluruskan hukum pada penyelesaian suatu perkara. Sehingga tidak membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.
Meski begitu, diakui Bang Anjas kepada wartawan saat disela kegiatan Pesta Rakyat dengan mengahadirkan para artis papan atas didesa Kuncen Padangan Bojonegoro minggu lalu.

pada kenyataannya tidak sedikit pengacara yang mengingkari prinsip-prinsip fundamental dari etika kepengacaraan atau penegakan hukum itu sendiri.

Sebuah fakta atau kebenaran kerap bisa dijungkirbalikan dengan memainkan tafsir hukum. Sebab mereka cenderung berada pada posisi paradoksal, yakni di satu sisi dituntut untuk selalu berada di jalur penyelesaian kasus yang ditangani secara obyektif berkeadilan.”ucapnya

Sementara pada disi lain, mereka juga acapkali dituntut untuk memenangkan klien atau pihak yang dibela.
“Sebab sudah menjadi harapan pihak klienlah untuk dimenangkan atau diringankan beban hukumnya,” terangnya.

Hal ini, tambahnya, berkaitan dengan fakta bahwa income atau pendapatan seorang pengacara selalu berkolerasi positif dengan kemampuannya untuk memenangkan setiap perkara atau meringankan beban kliennya itu.

Dalam kondisi seperti itu, masih menurut Pengacara yang selalu menang membela kliennya , tampaknya idealisme seorang pengacara cenderung luntur atau terkalahkan oleh tawaran materi yang menggiurkan.

Bahkan sudah menjadi postulate social, bahwa materi cenderung mendominasi orientasi individu dan kelompok. Terutama mereka yang sangat rendah derajat integritasnya.
“Karena itu, tidak mengherankan kalau mereka yang bekerja sebagai pengacara cenderung kaya atau bergelimang materi,” bebernya.

Namun sebaliknya, para pengacara yang benar-benar menjalankan amanah etis dan hukum secara bermoral, akan selalu sepi klien, bahkan tidak eksis dalam dunia bisnis kepengacaraan. Justru fenomena seperti itu tampaknya sudah dianggap sebagai sesuatu yang lazim dalam praktik peradilan di negeri ini.
“Kebenaran pastilah terkalahkan oleh materi. Mereka yang bersalah pun, apakah itu pejabat atau pengusaha, asal memiliki uang banyak dan mau menyewa pengacara kondang yang fragmatis, besar peluangnya untuk dimenangkan kasusnya. Kendati secara fakta mereka berada pada posisi yang salah atau bermasalah,” tandasnya.

Sebaliknya, mereka yang terlibat atau dilibatkan dalam suatu perkara hukum, apalagi yang “lemah” secara materi sehingga tak mampu membayar pengacara kondang dengan harga yang mahal, pastilah akan mudah diombang-ambingkan dalam suatu perkara hukum.
Bahkan mereka akan diarahkan untuk menjadi pihak yang harus bersalah, meskipun secara faktual seharusnya berada pada posisi yang benar atau tak bersalah alias tak melanggar hukum.
“Inilah yang kadang menciderai profesi seorang pengacara dimata masyarakat,” Tutupnya.(ayyuk /3s)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini