Mengkaji Lebih Dalam Pemilihan Kepala Desa

0
132

Beberapa bentuk dan tingkat pemilu sudah kita lalui,  mulai dari Pemilihan Presiden pilkada bupati, gubernur, hingga legislatif.

Akhir-akhir ini sudah mulai terdengar kembali pesta demokrasi di tingkat desa, yakni pilkades.

Pilkades adalah bentuk pemilihan yang paling kecil dalam sebuah tatanan kepemerintahan dan dilaksanakan secara langsung oleh warga desa setempat untuk memilih kepala desanya.

Pilkades juga dapat dikatakan sebagai bentuk pesta demokrasi yang paling merakyat. Jika benar-benar dimanfaatkan, maka ajang politik ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran politik bagi kita sendiri.

Namun, dalam ajang pilkades ini ada sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih dalam yakni budaya pemilihan kepala desa.

Pilkades merupakan ajang pemilu yang lebih spesifik dari pada pemilu-pemilu lainnya. Dimana kedekatan dan keterkaitan secara langsung antara pemilih dan para calon.

Para calon biasanya sudah dikenali dengan baik oleh masyarakat, bahkan ada calon yang merupakan saudara atau saudari kita sendiri. Sehingga aroma politik di lokasi tersebut akan lebih terasa jika dibandingkan dengan pemilu lainnya.

Namun demikian kedekatan pribadi seorang calon dengan masyarakatnya seringkali dipakai sebagai cara untuk menentukan pilihannya. Budaya untuk mensosialisasikan program atau visi dan misi sering kali tidak digunakan sebagaimana mestinya yaitu sebagai pendidikan politik atau media kampanye yang baik.

Dengan adanya unsur kedekatan pribadi seperti itu, tentu persaingan antar calon akan semakin ketat dan sengit, sehingga bisa saja muncullah praktik money politic yang akhir-akhir ini dijadikan sebagai pendorong dalam pemilihan. Oleh karena itu, pelaksanaannya banyak yang keluar dari norma dan etika politik.

Akhir-akhir ini menjelang pilkades, ada satu hal menarik yang perlu kita ketahui yaitu adanya isu putra daerah. Putra daerah menjadi syarat penting yang perlu dimiliki oleh para calon pemimpin bahkan calon pemimpin desa sekalipun. Sehingga jangan heran apabila ada seorang calon yang menambahkan keterangan putra daerah dalam setiap ajang kampanyenya.

Oleh karena itu, berdasarkan fenomena yang ada kita harus berpikir lebih jernih tentang arti dan makna dari kata putra daerah itu sendiri. Ingat, kata putra daerah juga memiliki beberapa kategori. Bukan hanya sekedar satu daerah atau memiliki asal yang sama.

Nah, Apa yang menjadi kategori utama untuk kita sehingga bisa dikatakan sebagai putra daerah?

Jangan sampai kata putra daerah itu hanya dijadikan atau dimanfaatkan sebagai kepentingan politik dan ekonominya.

Hal penting yang perlu kita perhatikan bahwa pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mempunyai jiwa dan karakter bekerja. Pemimpin yang mempunyai wawasan intelektual yang luas dan didukung dengan moral dan sosial yang baik, sehingga perbaikan terhadap masyarakatnya dapat diwujudkan dengan mudah.

Bukan pemimpin yang dibutuhkan itu hanya sekedar mengandalkan figurnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini