Wartawan Daerah Bisa Kaya Kalau Jadi Broker Proyek atau Memeras

0
206

“Bojonegoro,sigap88news.com||” – Perdebatanan panjang soal kesejahteraan wartawan belum kunjung usai. Para pewarta (wartawan/jurnalis) nasibnya ternyata belum sebaik dibandingkan dengan tugas berat yang mesti dijalaninya sehari-hari. Wartawan masih saja kere, meskipun tak semuanya.

Kenyataanya, para wartawan sendiri belum memiliki ketentuan gaji dan upah atau kesejahteraan minimal yang harus mereka terima dari tempat kerjanya, seperti halnya rekan-rekan buruh itu.
Namun wartawan ngak mau disebut buruh, namun buktinya wartawan masih seringkali bergantung pada kebaikan manajemen perusahaan masing-masing. Karena kesejahteraan yang minim itulah beberapa wartawan terpaksa nyambi atau membuka usaha sampingan. Sepanjang tak berhubungan dengan profesinya itu sah-sah saja. Misalnya membuka warung makan, bengkel, loundry dll.

Kalau menjadi pemborong bagaimana? Soal itu menurut hemat saya sangat rentan. Maksudnya kalau jadi pemborong atau broker pemborong pasti agak berhubungan dengan profesi. Artinya si pimpro itu akan ngasih proyek karena melihat kita sebagai wartawannya.Dan ini bisa dibuktikan ketika tidak jadi wartawan, malah tak dapat proyek. Semua orang menjauh.

Benarkah para wartawan di Negeri ini dan daerah lain umumnya belum memperoleh penghasilan yang memadai untuk kehidupannya sehari-hari?. Kalau dikategorikan penghasilan wartawan di Jatim dapat dibagi dalam beberapa skala, di antaranya: Skala tinggi, bagi koresponden media massa cetak/TV nasional; Skala sedang untuk wartawan media harian dan radio mainstream lokal; dan Skala rendah bagi wartawan media mingguan dan koresponden media nasional yang belum eksis atau kurang aktif menulis (karena penghasilan dinilai dari produktivitas menulisnya).

Tapi beberapa rekan saya ada yang kaya-raya dengan menyandang titel wartawan. Punya mobil punya rumah di kawasan elit. Dia aktif dan kreatif menjemput proyek APBD maksudnya jadi broker. Keahliannya melobi orang (kalau tak mau dibilang menggertak) jadi modal. “Profesi wartawan itu hanya sebagai jembatan saja, mana ada yang kaya dari wartawan,” katanya.

“Bohong lah idealis, yang ada kapitaslis,” celetuk Marwan wartawan Onlen . Saya hanya bisa tersenyum mendengar sahabatku berceloteh..

“Saya Pikir, negara harus hadir dan memberikan kesejahteraan bagi wartawan. Data dari dewan Pers, banyak wartawan yang bekerja tanpa diberikan gaji, kelak kita menginginkan Wartawan diberikan kesejahteraan sehingga dapat diseimbangkan dengan kualitas para wartawan,” Imbuhnya.

Penulis :trisayu Wartawan sigap88news.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini