Bangkalan, sigap88news.com – Mengatisipasi penyebaran campak di Kabupaten Bangkalan, usai Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus campak di Kabupaten Sumenep, Kementrian Koordinator PMK monitoring langsung ke RSUD Syamrabu Bangkalan, Jumat (29/8).

Monitoring di RSUD tersebut diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan, dan Pembangunan Kependudukan, Kemenko PMK RI, Sukadino. “Kegiatan kali ini, mau monitoring usai kejadian KLB campak di Sumenep, salah satu jadwal monitoring, di Madura Raya adalah Bangkalan,” terangnya Jumat (29/8).
Ia menyampaikan, saat ini Bangkakan sudah ada kewaspadaan untuk mengtisipasi penyebaran campak. Seperti kegiatan imunisasi vaksin campak yang dilakukan oleh dinas terkait, dan semua fasilitas kesehatan kerjasama mencegah terjadinya KLB campak di Kota salak.

“Saya lihat fasilitas di RSUD ini sangat bagus, karena sudah menyiapkan isolasi khusus sebagai langkah antisipasi penyebaran campak,” katanya.
Sukadino juga mengapresiasi dengan capain imunisasi kejar di Bangkalan yang sudah 90 persen. Cakupan imunisasi itu menjadi salah satu upaya Pemkab untuk antisipasi penyebaran penyakit campak. “Target imunisasi campak adalah 95 persen, dengan capaian saat ini, kami mengapresiasi,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu upaya Menkes RI untuk mempercepat pemeriksaan pasien campak. Juga meminta BBLK Surabaya untuk bisa jemput bola mengambil sampel pengujian campak ke setiap Kabupaten yang terdampak.
“Hal ini sudah menjadi komitmen Menkes agar BBLK bisa jemput bola,” paparnya.
Dia juga mengungkapkan, campak menjadi salah satu penyakit yang menular. Bahkan penularan penyabaran genus Morbillivirus itu, lebih cepat dari virus Covid.
“Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), angka reproduksi dasar atau R0 untuk campak adalah 12-18. Sementara untuk covid hanya di sekitar angka 8, jadi penyebranya lebih cepat Campak,” ungkapnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSUD Syamrabu Bangkalan, dr. Mega Malynda, mengatakan, gejala penyakit campak biasanya diawali dengan demam pada hari pertama, diikuti munculnya bintik-bintik merah yang dimulai dari belakang telinga lalu menyebar ke seluruh tubuh. Gejala ini sering kali disertai batuk dan pilek.
“Untuk melindungi dari penyakit campak adalah imunisasi, maskipun anak yang sudab vaksin terkena campak. Gejalanya lebih ringan,” jelasnya.
Menurut Mega, Saat ini, pasien yang masih dirawat berjumlah 17 anak suspek campak. Syukurnya kondisi semua pasien itu terus stabil. “Dari 17 anak yang di rawat, ada 4 anak yang direncanakan dibawa pulang,” pungkasnya. (mam)